BOSNAS DAN BOPDA, MENGGIURKAN ATAU MENYUSAHKAN!

Program Pemerintah untuk memberantas kemiskinan sudah dibuktikan dengan disyahkan anggaran Pendidikan sebesar 20% dari Anggaran APBN maupun APBD. Banyak masyarakat antusias dengan program ini kemudian diturunkan sebuah BOSNAS dan BOPDA untuk membuat sekolah gratis di Sekolah yang berplat merah. Swasta pun ikut andil untuk menerima bantuan tersebut. Bagi sekolah Plat Merah wajib untuk menerima karena tidak ada mindset untuk menggaji para guru. Bagi swasta yang menerima juga membuat beban bagi masyarakat juga berkurang, tetapi pada sisi administrasi pelaporan swasta terhambat oleh kebijakan dari yayasan dan pihak managemen sekolah.

Hal semacam ini perlu dibahas, walaupun pemerintah sudah sering mengadakan BINTEK untuk pelaporan BOSNAS dan BOPDA tetapi masih bingung. Bagi sekolah plat merah laporan memang banyak item tetapi mudah karena sudah ada prosentase pembuatan alokasi anggaran. Bagi swasta harus membuat alokasi sendiri kemudian dicampur dengan dana investasi sehingga baru sesuai dengan anggaran yang diajukan untuk menerima BOS dan BOPDA. Untuk penyaluran BOSNAS memang lancar sehingga tidak ada kendala, tetapi untuk BOPDA  plat merah 3 bulan sekali, swasta 6 bulan sekali. Dengan melihat ini memang untuk plat merah sangat menggiurkan, bagi swasta membuat pusing karena dana yang seharusnya sudah bisa dialokasikan menjadi mundur atau membuat talangan dulu untuk gaji atau rutinitas kegiatan yang lain.

Dari laporan yang beredar setiap laporan yang disampaikan di Dinas Pendidikan antara sekolah satu dengan yang lainnya juga mengalami perbedaan dalam pembuatan SPJ. Sekolah A ini betul kemudian di contoh dilaporkan salah padahal sudah sesuai. Contoh saja dalam penulisan nota dengan kwitansi, nota tidak ada masalah, tetapi kwitansi ada perbedaan, ada yang disuruh tulis tangan, ada yang pakai printer yang benar yang mana? Kadang orang-orang yang menggunakan teknologi beranggapan segala sesuatu yang menggunakan teknologi mudah diterapkan tetapi dari yang menerima laporan tidak mau ingin model lama. Akhirnya susah semua padahal database pembuatan laporan sudah disusun urut sehingga kwitansi tinggal cetak selesai, tanpa perlu kerja dua kali.

Anda bisa membayangkan kenerja dari masing-masing sekolah, semua bantuan diterima tetapi susah dalam aplikasi pengelolaan dan distribusi masing-masing anggaran antara sekolah plat merah dengan swasta.

About these ads

Tentang wong1gemblung

wong sing ra eru artine dunyo amarga ora ngilmu
Tulisan ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s